Pemindahan Hak atas Saham Melalui Hibah dalam Perseroan Terbatas Berdasarkan Perspektif UU PT dan KUHPerdata
Seri : Pemindahan Saham
Pemindahan Hak atas Saham Melalui Hibah dalam Perseroan Terbatas Berdasarkan Perspektif UU PT dan KUHPerdata
Lisza Nurchayatie
KRA MJ Widijatmoko Wreksonegoro
Pemindahan hak atas saham merupakan diskursus yang fundamental dalam hukum korporasi di Indonesia, mengingat saham tidak hanya merepresentasikan unit kepemilikan modal, tetapi juga merupakan manifestasi dari hak-hak kebendaan yang melekat pada subjek hukum. Dalam ekosistem bisnis yang dinamis, kepemilikan saham dapat beralih melalui berbagai mekanisme, di antaranya jual beli, pewarisan, penggabungan usaha, dan hibah.
Hibah saham, secara khusus, menempati posisi unik karena melibatkan irisan antara hukum perjanjian cuma-cuma dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan formalisme administratif dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT). Analisis ini bertujuan untuk membedah secara mendalam persyaratan, tatacara, prosedur, serta tahapan hibah saham sebagai salah satu cara memperoleh kepemilikan saham di Indonesia, termasuk struktur materiil dari akta hibah saham itu sendiri.
Konstruksi Yuridis Saham sebagai Objek Kebendaan dan Hibah sebagai Mekanisme Pengalihan.
Untuk memahami pemindahan hak atas saham melalui hibah, terlebih dahulu harus diletakkan fondasi mengenai hakekat saham dalam hukum positif Indonesia. Berdasarkan Pasal 60 ayat (1) UU PT, saham diklasifikasikan sebagai benda bergerak yang memberikan sejumlah hak kepada pemiliknya. Klasifikasi ini sejalan dengan Pasal 511 angka (4) KUHPerdata yang menegaskan bahwa segala kepentingan dalam perseroan, firma, atau persekutuan dagang dianggap sebagai benda bergerak. Sebagai benda bergerak, saham memberikan hak kebendaan (zakelijk recht) kepada pemiliknya, yang mencakup hak untuk menggunakan, menikmati, dan memindahtangankan objek tersebut kepada pihak lain secara bebas, selama tidak bertentangan dengan undang-undang atau hak orang lain.
Hibah, di sisi lain, didefinisikan dalam Pasal 1666 KUHPerdata sebagai suatu perjanjian di mana pemberi hibah, di waktu hidupnya, menyerahkan suatu benda secara cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali untuk keperluan penerima hibah yang menerima penyerahan tersebut. Karakteristik utama hibah adalah sifatnya yang "cuma-cuma" (om niet), yang berarti tidak ada kontraprestasi atau nilai ekonomi yang diberikan oleh penerima kepada pemberi sebagai imbalan atas pengalihan hak tersebut. Hal ini menciptakan distingsi tajam dengan transaksi jual beli yang berbasis pada pertukaran nilai ekonomi atau harga yang disepakati.
Tabel Perbandingan Karakteristik Yuridis Saham: KUHPerdata vs UU PT
Parameter | Perspektif KUHPerdata | Perspektif UU PT |
Klasifikasi Objek | Benda bergerak tidak berwujud (Pasal 511). | Benda bergerak yang memberikan hak kebendaan (Pasal 60). |
Sifat Kepemilikan | Hak milik yang memberikan kekuasaan mutlak. | Kepemilikan modal yang terikat pada aturan korporasi. |
Mekanisme Penyerahan | Memerlukan akta autentik untuk hibah benda tak berwujud (Pasal 1682). | Dilakukan dengan akta pemindahan hak (notariil atau bawah tangan) (Pasal 56). |
Pengakuan Pihak Ketiga | Sejak adanya penerimaan tegas oleh penerima hibah. | Sejak dicatatkan dalam Daftar Pemegang Saham (DPS). |
Dalam konteks korporasi, hibah saham bukan sekadar perbuatan perdata sepihak, melainkan tindakan hukum yang memiliki implikasi terhadap struktur permodalan dan pengendalian perseroan. Oleh karena itu, pelaksanaannya tidak hanya tunduk pada ketentuan Buku III KUHPerdata mengenai perikatan, tetapi juga harus mematuhi rambu-rambu operasional yang ditetapkan dalam UU PT serta Anggaran Dasar (AD) perseroan yang bersangkutan.
Persyaratan Materiil dalam Pelaksanaan Hibah Saham.
Persyaratan hibah saham melibatkan aspek subjek hukum, objek hukum, dan formalitas perbuatan hukum itu sendiri. Kegagalan dalam memenuhi salah satu persyaratan ini dapat mengakibatkan pemindahan hak tersebut cacat secara hukum, dapat dibatalkan, atau bahkan batal demi hukum.
Kecakapan Subjek dan Kewenangan Bertindak
Pemberi hibah dan penerima hibah harus merupakan subjek hukum yang memiliki kecakapan untuk melakukan tindakan hukum (bekwaamheid). Pemberi hibah harus merupakan pemilik sah dari saham yang akan dihibahkan, yang dibuktikan dengan pencatatan namanya dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) perseroan. Jika pemberi hibah adalah seorang individu yang terikat dalam perkawinan, maka timbul isu mengenai harta bersama. Berdasarkan Pasal 35 dan 36 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Oleh karena itu, hibah atas saham yang termasuk dalam harta bersama memerlukan persetujuan dari pasangan (suami atau istri). Tanpa persetujuan tersebut, akta hibah dapat digugat oleh pasangan yang dirugikan sebagai perbuatan melawan hukum (PMH) karena melanggar hak penguasaan atas harta bersama.
Selain itu, terdapat batasan yang diatur dalam Pasal 1678 KUHPerdata yang melarang hibah antara suami dan istri selama perkawinan berlangsung. Larangan ini bersifat imperatif guna mencegah terjadinya perpindahan harta yang bertujuan menghindari kewajiban kepada pihak ketiga atau merugikan hak mutlak ahli waris (legitieme portie) di kemudian hari. Namun, dalam praktik yang merujuk pada Kompilasi Hukum Islam (KHI), hibah antar pasangan sering kali dipandang lebih fleksibel asalkan tidak melanggar ketentuan hukum Islam dan tidak merugikan pihak lain.
Formalitas Akta : Keharusan Akta Notaris
Salah satu persyaratan paling krusial dalam hibah saham adalah bentuk dokumen hukumnya. Pasal 1682 KUHPerdata secara tegas menyatakan bahwa "Tiada suatu penghibahan pun... dapat dilakukan tanpa akta notaris, yang minutnya harus disimpan pada notaris, dan bila tidak dilakukan demikian maka penghibahan itu tidak sah". Ketentuan ini merupakan syarat ad solemnitatem, di mana bentuk akta autentik merupakan syarat mutlak bagi sahnya perbuatan hukum hibah, khususnya untuk benda tidak berwujud seperti saham.
Meskipun Pasal 56 ayat (1) UU PT memberikan ruang bagi pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta bawah tangan, namun dalam doktrin hukum perdata, ketentuan Pasal 1682 KUHPerdata tetap berlaku sebagai ketentuan khusus bagi hibah. Oleh karena itu, dalam praktik kenotariatan di Indonesia, hibah saham wajib dituangkan dalam Akta Hibah Saham yang dibuat di hadapan Notaris guna menjamin kepastian hukum dan memenuhi syarat administrasi di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Tatacara dan Prosedur Tahapan Hibah Saham.
Proses hibah saham sebagai cara memiliki saham di Indonesia mengikuti rangkaian prosedur yang sistematis, mulai dari verifikasi internal perseroan hingga pelaporan resmi kepada otoritas negara. Tahapan ini didesain untuk memastikan bahwa pemindahan hak tersebut tidak melanggar kepentingan para pemegang saham lain, kreditur, dan perseroan itu sendiri.
Tahap I : Penelaahan Anggaran Dasar dan Persetujuan Organ Perseroan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa ketentuan dalam Anggaran Dasar (AD) perseroan. Pasal 57 UU PT memperbolehkan AD untuk menetapkan persyaratan tertentu terkait pemindahan hak atas saham, seperti keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lain (Right of First Refusal), keharusan mendapatkan persetujuan organ perseroan (Direksi, Dewan Komisaris, atau RUPS), atau keharusan mendapatkan persetujuan dari instansi berwenang.
Dalam konteks hibah, mekanisme penawaran terlebih dahulu sering kali sulit diterapkan karena hibah tidak memiliki nilai harga yang dapat dinegosiasikan secara komersial. Namun, secara yuridis, pemegang saham yang hendak menghibahkan sahamnya tetap harus mengikuti prosedur persetujuan yang ditetapkan AD. Jika AD mensyaratkan persetujuan RUPS, maka perseroan harus menyelenggarakan RUPS (atau Keputusan Sirkuler) untuk memberikan izin atas hibah tersebut. Persetujuan organ perseroan ini berfungsi untuk mengontrol siapa yang masuk ke dalam struktur kepemilikan perseroan guna menjaga stabilitas manajemen dan visi perusahaan.
Tahap II : Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Apabila AD mewajibkan persetujuan RUPS, maka RUPS harus diselenggarakan dengan mengikuti ketentuan kuorum kehadiran dan kuorum keputusan sebagaimana diatur dalam UU PT atau AD. Keputusan RUPS yang menyetujui hibah saham tersebut kemudian dituangkan dalam Berita Acara RUPS (akta relaas) atau Akta Pernyataan Keputusan Rapat (akta partij) yang dibuat oleh Notaris. Persetujuan ini menjadi landasan legal bagi Notaris untuk melanjutkan ke proses pembuatan Akta Hibah Saham.
Tahap III : Pembuatan Akta Hibah Saham di Hadapan Notaris
Setelah persetujuan korporasi diperoleh, pemberi hibah dan penerima hibah menghadap Notaris untuk menandatangani Akta Hibah Saham. Notaris memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa para penghadap memahami esensi hibah sebagai perbuatan cuma-cuma dan memastikan bahwa semua syarat subjektif serta objektif telah terpenuhi. Dalam tahap ini, Notaris juga akan memverifikasi bukti kepemilikan saham, seperti sertifikat saham atau surat keterangan dari Direksi mengenai kepemilikan saham dalam DPS.
Tahap IV : Pencatatan dalam Daftar Pemegang Saham (DPS)
Pemindahan hak atas saham baru mengikat perseroan setelah perubahan tersebut dicatatkan dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) oleh Direksi. Direksi wajib mencatat tanggal pemindahan hak, jumlah saham, dan identitas penerima hibah sebagai pemegang saham baru. Pencatatan ini memiliki fungsi konstitutif dalam hal pengakuan hak-hak pemegang saham oleh perseroan. Tanpa pencatatan dalam DPS, penerima hibah tidak dapat menjalankan hak-haknya seperti menghadiri RUPS, memberikan suara, atau menerima dividen secara formal dari perseroan.
Tahap V : Pelaporan kepada Kementerian Hukum dan HAM melalui AHU Online
Berdasarkan Pasal 56 ayat (2) UU PT, Direksi wajib memberitahukan perubahan susunan pemegang saham kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk dicatat dalam daftar perseroan. Pemberitahuan ini dilakukan secara elektronik melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) atau AHU Online paling lambat 30 hari sejak tanggal pencatatan pemindahan hak dalam DPS. Jika pemberitahuan ini belum dilakukan, menteri berhak menolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan perubahan lainnya dari perseroan.
Muatan Isi dan Klausul Penting dalam Akta Hibah Saham.
Akta Hibah Saham merupakan instrumen autentik yang menjadi bukti sahnya peralihan kepemilikan. Struktur akta ini harus disusun dengan cermat oleh Notaris untuk memitigasi risiko hukum di masa depan. Berikut adalah komponen utama dan klausul-klausul penting yang harus termuat dalam Akta Hibah Saham :
Kepala Akta dan Komparisi
Bagian ini memuat judul akta, nomor, tanggal, dan waktu penghadapan, serta identitas Notaris. Komparisi memuat data identitas lengkap dari pemberi hibah dan penerima hibah. Notaris harus mencantumkan dasar kewenangan bertindak para pihak, misalnya apakah pemberi hibah bertindak atas nama pribadi sebagai pemilik saham tunggal atau mewakili badan hukum lain. Jika pemberi hibah terikat dalam perkawinan, persetujuan pasangan harus dicantumkan dalam bagian ini atau sebagai lampiran yang tidak terpisahkan.
Premis atau Latar Belakang
Premis menjelaskan alasan dilakukannya hibah. Dalam konteks korporasi, premis harus menyebutkan rincian saham yang dimiliki pemberi hibah dalam perseroan, termasuk nilai nominal dan persentase kepemilikan. Premis juga merujuk pada keputusan RUPS atau organ perseroan yang telah menyetujui pemindahan hak tersebut sebagai pemenuhan syarat dalam Anggaran Dasar.
Klausul Utama : Penyerahan dan Penerimaan
Klausul ini merupakan jantung dari akta, yang menyatakan bahwa :
Jaminan (Representations and Warranties)
Pemberi hibah harus memberikan jaminan-jaminan hukum untuk melindungi penerima hibah, antara lain :
Kuasa untuk Pencatatan dan Pelaporan
Akta hibah biasanya memuat klausul pemberian kuasa yang tidak dapat ditarik kembali dari para pihak kepada Direksi perseroan atau Notaris untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan guna mencatatkan pemindahan hak tersebut dalam DPS dan memberitahukannya kepada Menteri Hukum dan HAM. Kuasa ini sangat penting untuk memastikan kelancaran administrasi korporasi tanpa harus menghadirkan kembali para pihak di kemudian hari.
Mekanisme Verifikasi Substantif dan Kepatuhan 2025.
Sejak berlakunya Permenkumham Nomor 2 Tahun 2025, proses pelaporan perubahan pemegang saham di Indonesia mengalami transformasi menuju sistem Verifikasi Substantif. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi kepemilikan korporasi dan mencegah praktik nominee serta pencucian uang.
Tahapan Verifikasi Substantif SABH 2025
Sistem AHU Online kini melakukan pemeriksaan yang lebih teliti terhadap setiap pengajuan pengalihan saham. Tahapannya meliputi :
Tabel Persyaratan Dokumen untuk Verifikasi Substantif 2025
Jenis Dokumen | Kegunaan |
Akta Hibah Saham Notariil | Bukti utama pemindahan hak yang autentik. |
Risalah RUPS/Sirkuler | Bukti persetujuan organ perseroan sesuai Anggaran Dasar. |
Daftar Pemegang Saham (DPS) | Bukti pencatatan internal oleh Direksi. |
KTP dan NPWP Para Pihak | Validasi identitas dan kewajiban perpajakan. |
Surat Pernyataan Kesesuaian Data | Pernyataan tanggung jawab mutlak atas kebenaran informasi. |
Implikasi Hukum dan Risiko dalam Hibah Saham.
Meskipun hibah saham tampak sebagai proses yang sederhana, terdapat berbagai risiko hukum yang harus diantisipasi oleh para pihak dan Notaris.
Pembatalan Akta karena Cacat Prosedur
Akta hibah dapat dinyatakan batal demi hukum jika melanggar ketentuan Pasal 1682 KUHPerdata (tidak dibuat secara notariil) atau melanggar ketentuan hukum yang bersifat memaksa dalam UU PT. Sebagai contoh, dalam kasus PT Citra Lampia Mandiri (CLM), pemindahan saham yang dilakukan tanpa persetujuan sah atau berdasarkan akta yang diduga palsu dapat memicu sengketa kepemilikan yang berkepanjangan dan melibatkan tuntutan pidana bagi pihak-pihak yang terlibat.
Selain itu, jika Notaris lalai dalam membacakan akta atau memastikan kehadiran fisik para pihak, kekuatan pembuktian akta autentik tersebut dapat terdegradasi menjadi akta di bawah tangan berdasarkan Pasal 16 ayat (9) UUJN. Mengingat hibah benda tak berwujud wajib menggunakan akta autentik, degradasi ini berakibat pada ketidaksahan hibah tersebut secara keseluruhan.
Isu Legitieme Portie (Hak Mutlak Ahli Waris)
Dalam hukum waris Indonesia, terdapat konsep Legitieme Portieatau bagian mutlak dari harta peninggalan yang harus diterima oleh ahli waris tertentu (anak, orang tua). Jika seorang pemegang saham menghibahkan sebagian besar sahamnya kepada pihak luar atau hanya kepada satu orang anak sehingga melanggar hak mutlak ahli waris lainnya, maka hibah tersebut dapat dituntut untuk dikurangi nilainya (inkorting) setelah pemberi hibah meninggal dunia. Ahli waris yang dirugikan memiliki legal standing untuk menggugat pembatalan hibah atau menuntut pengembalian nilai saham tersebut ke dalam harta warisan.
Tanggung Jawab Perdata Notaris
Notaris dapat digugat atas dasar Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) jika terbukti lalai atau tidak cermat dalam proses pembuatan akta hibah saham, misalnya dengan mengabaikan adanya pemblokiran saham atau tidak memverifikasi keabsahan surat kuasa. Sanksi yang dapat dijatuhkan meliputi kewajiban membayar ganti rugi kepada pihak yang dirugikan serta sanksi administratif dari organisasi profesi dan kementerian.
Analisis Ilmiah : Kedudukan Penerima Hibah sebagai Pemilik Manfaat (Beneficial Owner).
Dalam perspektif hukum korporasi modern, identitas pemegang saham yang tercantum dalam DPS dan AHU Online tidak selalu merepresentasikan pengendali sebenarnya dari perseroan. Konsep Beneficial Owner (BO) muncul untuk mengidentifikasi individu yang benar-benar memiliki kendali atau menerima manfaat akhir dari perseroan.
Penerima hibah saham, setelah proses administrasi selesai, secara otomatis akan terdaftar sebagai pemegang saham. Namun, otoritas (seperti PPATK dan Kemenkumham) akan menelisik lebih jauh apakah penerima hibah tersebut bertindak sebagai pemilik mandiri atau hanya sebagai nominee bagi pihak lain. Berdasarkan Perpres 13/2018, kriteria BO mencakup :
Transparansi data BO sangat krusial dalam mitigasi risiko pencucian uang. Notaris memiliki peran strategis sebagai pihak yang wajib melaporkan data BO ke dalam sistem AHU pada saat pendaftaran perubahan pemegang saham. Kegagalan dalam melaporkan data BO yang akurat dapat mengakibatkan akses perseroan pada sistem SABH dan OSS diblokir, yang secara praktis melumpuhkan operasional bisnis perseroan.
Aspek Akuntansi dan Perpajakan Hibah Saham.
Meskipun hibah dilakukan secara cuma-cuma, secara akuntansi dan perpajakan tetap terjadi perpindahan nilai aset.
Pencatatan dalam Buku Besar Perseroan
Dalam buku besar perseroan, pemindahan saham melalui hibah tidak mengubah total modal ditempatkan dan disetor perseroan, namun mengubah rincian pemilik ekuitas dalam Daftar Pemegang Saham. Perseroan harus memastikan bahwa pencatatan dalam DPS sinkron dengan akta pemindahan hak untuk keperluan audit dan pelaporan tahunan.
Implikasi Pajak Penghasilan (PPh)
Berdasarkan peraturan perpajakan di Indonesia, hibah saham pada dasarnya dikenakan Pajak Penghasilan (PPh). Namun, terdapat pengecualian (bukan objek pajak) jika hibah tersebut dilakukan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat (orang tua ke anak atau sebaliknya), sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
Bagi penerima hibah yang tidak memenuhi syarat pengecualian, nilai hibah saham tersebut dianggap sebagai penghasilan dan dikenakan PPh berdasarkan tarif Pasal 17 UU Pajak Penghasilan. Nilai yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak adalah harga pasar dari saham tersebut pada saat hibah dilakukan, bukan nilai nominalnya. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku fiskal (bagi pemberi yang menyelenggarakan pembukuan) akan dicatat sebagai keuntungan bagi pemberi hibah.
Kesimpulan dan Rekomendasi Praktis.
Hibah saham merupakan mekanisme pemindahan hak yang strategis namun sarat dengan formalitas hukum yang ketat. Harmonisasi antara kehendak bebas dalam KUHPerdata dan rigiditas operasional dalam UU PT menuntut ketelitian tinggi dari para pelaku usaha dan Notaris.
Kesimpulan Utama
Rekomendasi bagi Praktisi dan Pemegang Saham
Bagi para pihak yang berencana melakukan hibah saham, sangat disarankan untuk melakukan legal audit terhadap Anggaran Dasar perseroan guna memastikan tidak ada klausul yang terlanggar. Kehadiran pasangan pemberi hibah untuk memberikan persetujuan tertulis sangat krusial untuk mencegah gugatan di masa depan terkait harta bersama. Selain itu, pemilihan Notaris yang memahami integrasi sistem SABH terbaru dan kepatuhan BO akan sangat menentukan kelancaran proses administrasi hingga terbitnya Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan dari Kementerian Hukum dan HAM.
Hibah saham yang dilakukan dengan ketaatan prosedur yang tinggi tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi penerima, tetapi juga memperkuat struktur tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) dan menjaga keberlangsungan perseroan dalam jangka panjang. Sebaliknya, pengabaian terhadap formalitas administratif dapat membuka celah bagi sengketa keluarga, tuntutan pajak, hingga risiko pembatalan status hukum kepemilikan yang dapat merugikan seluruh stakeholder perseroan.
Analisis Lanjutan mengenai Tanggung Jawab Direksi : Direksi memegang peranan kunci dalam rantai prosedur ini. Kelalaian Direksi dalam mencatatkan pemindahan hak ke dalam DPS, meskipun akta notariil sudah ditandatangani, tetap menjadikan pemindahan tersebut tidak mengikat bagi perseroan. Hal ini sering menjadi titik sengketa di mana pemegang saham lama tetap diundang ke RUPS karena data DPS belum diperbarui, sementara penerima hibah merasa haknya telah beralih. Oleh karena itu, penerima hibah harus aktif memastikan bahwa salinan akta hibah telah disampaikan secara resmi kepada perseroan dan meminta bukti pencatatan dalam DPS segera setelah akta ditandatangani. Integrasi sistem digital melalui SABH 2025 diharapkan dapat meminimalisir sengketa serupa melalui mekanisme konfirmasi langsung kepada para pihak secara real-time. Dengan demikian, ekosistem korporasi Indonesia akan semakin transparan, akuntabel, dan terlindungi dari sengketa kepemilikan yang bersifat destruktif terhadap nilai perusahaan. Keseluruhan kerangka hukum ini, dari Pasal 1666 KUHPerdata hingga sistem digital SABH, membentuk satu kesatuan prosedur yang harus dipahami secara holistik oleh setiap calon pemilik saham melalui jalur hibah di Indonesia. Ketidaktahuan akan prosedur administratif tidak dapat menjadi alasan pemaaf di hadapan hukum (ignorantia juris non excusat), sehingga konsultasi dengan ahli hukum dan notaris profesional menjadi sebuah keharusan dalam setiap rencana pemindahan hak atas saham melalui mekanisme hibah.
Referensi Bacaan
Bisakah Saham Dihibahkan.? - Pengadilan Tinggi Agama Jakarta, https://pta-jakarta.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=322:bisakah-saham-dihibahkan&catid=197:artikel-hukum&Itemid=552
Ingin Hibahkan Saham ? Simak Prosedur dan Syaratnya Secara Hukum, https://www.hukumku.id/post/ingin-hibahkan-saham-simak-prosedur-dan-syaratnya-secara-hukum
Implikasi Hukum Pembuatan Akta Hibah Saham - UI Scholars Hub, https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1439&context=notary
uu-40-2007 perseroan terbatas - OJK, https://www.ojk.go.id/sustainable-finance/id/peraturan/undang-undang/Documents/5.%20UU-40-2007%20PERSEROAN%20TERBATAS.pdf
5. Prosedur Pemindahan Hak Atas Saham - Scribd, https://ro.scribd.com/doc/270065057/Pemindahan-Hak-Atas-Saham
TINJAUAN YURIDIS PEMINDAHAN HAK KEPEMILIKAN SAHAM BERDASARKAN HAK WARIS DALAM PERSEROAN TERBATAS JURNAL ILMIAH - Universitas Mataram, https://fh.unram.ac.id/wp-content/uploads/2019/09/GITA-UTAMI-D1A015087.pdf
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA PEMEGANG SAHAM YANG BELUM TERCATAT PADA DAFTAR PEMEGANG SAHAM - UI Scholars Hub, https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1311&context=notary
Konsultasi Pajak: Bagaimana Perlakuan untuk Hibah Saham?, https://klikpajak.id/blog/konsultasi-pajak-bagaimana-perlakuan-untuk-hibah-saham/
keabsahan akta hibah saham pada suatu perseroan - Jurnal Universitas Islam Malang, https://riset.unisma.ac.id/index.php/hukeno/article/download/16616/15482/56239
Shares Purchase Agreement (SPA) Under Indonesian Law, https://kusumalawfirm.com/article/shares-purchase-agreement-spa-under-indonesian-law/
Peralihan Saham dalam Keluarga yang Memenuhi Syarat Hukum, https://kontrakhukum.com/article/peralihan-saham-dalam-keluarga-yang-memenuhi-syarat-hukum/
Prosedur Singkat Jual Beli Saham Perseroan Terbatas - Infiniti Office, https://infiniti.id/blog/legal/prosedur-jual-beli-saham
Harta Bersama Menurut Tata Aturan Perundangan, https://www.pta-gorontalo.go.id/berita/kolom-kpta/4132-harta-bersama-menurut-tata-aturan-perundangan-dr-h-chazim-maksalina-m-h
Pendirian Perseroan Terbatas oleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin Ditinjau dari Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, https://jurnalfsh.uinsa.ac.id/index.php/qanun/article/download/736/726/3844 15.
Analisis Akibat Hukum Pembatalan Akta Hibah Yang Dibuat Tanpa Persetujuan Ahli Waris Pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 304/K/Ag/2019 - PDRH, https://dev.law.ui.ac.id/koleksi/detail/47126/analisis-akibat-hukum-pembatalan-akta-hibah-yang-dibuat-tanpa-persetujuan-ahli-waris-pada-putusan-mahkamah-agung-nomor-304kag2019
Kaidah Yurisprudensi Hibah melebihi sepertiga harta peninggalan yang merugikan ahli waris lainnya. - KYRI - Karakterisasi Putusan Hakim, https://karakterisasi.komisiyudisial.go.id/?view=t5nsyMraxMLmx9%2Fn2uDj18bg0g%3D%3D&id=p2Sr 17. 252
PEMBATALAN AKTA HIBAH OLEH SALAH SATU PEMBERI HIBAH MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM - E-Journal Untar, https://journal.untar.ac.id/index.php/adigama/article/download/13590/8302/40729
Syarat dan Prosedur Hibah Saham - Lex Mundus, https://lexmundus.com/articles/syarat-dan-prosedur-hibah-saham/
UNSUR KEMASLAHATAN PADA HIBAH SUAMI – ISTRI - AL-QOLAM E-JOURNAL PORTAL, https://ejournal.alqolam.ac.id/index.php/maqashid/article/download/381/332/1043
Peran Dan Tanggung Jawab Notaris - UI Scholars Hub, https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1086&context=notary
Syarat dan Tata Cara Pengalihan Saham dalam PT - Easybiz, https://www.easybiz.id/pengalihan-saham-dalam-pt
Bagaimana Ketentuan Hibah Saham Yang Dilakukan Oleh Perseroan Terbatas, https://www.dhp-lawfirm.com/bagaimana-ketentuan-hibah-saham-yang-dilakukan-oleh-perseroan-terbatas/
akibat hukum terhadap perseroan terbatas atas akta perubahan anggaran dasar, https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jhpis/article/download/716/725/1894
Syarat dan Prosedur Terbaru Pengalihan Saham Dalam PT, https://izinkilat.id/update-syarat-dan-prosedur-terbaru-pengalihan-saham-dalam-pt
Akta Hibah Saham - Scribd, https://id.scribd.com/document/504505900/Akta-hibah-saham 26. Sale and Purchase Agreement - SEC.gov, https://www.sec.gov/Archives/edgar/data/929700/000119312509128036/dex993.htm
Contoh-Contoh Akta Notaris yang Tidak Biasa Jilid 1 - JDIH Kota Tanjungpinang, https://jdih.tanjungpinangkota.go.id/data_file/3200/ContohContoh%20Akta%20Notaris%20yang%20Tidak%20Biasa%20Jilid%201.pdf
Shareholders Agreement And Share Purchase Agreement - Indonesia - Genie AI, https://www.genieai.co/en-id/template/shareholders-agreement-and-share-purchase-agreement
Langkah Verifikasi Substantif Bagi Notaris dan Pemegang Saham PT (Panduan Lengkap SABH 2025) - Konsultan Perizinan & Bisnis, https://amzijmy.com/langkah-verifikasi-substantif-bagi-notaris-dan-pemegang-saham-pt-panduan-lengkap-sabh-2025/
KEDUDUKAN BENEFICIAL OWNER DALAM PERSEROAN TERBATAS DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA, https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/download/5380/3501
Beneficial Owner: Mengenali Pemilik Manfaat dan Sanksi Bagi Perseroan Terbatas, https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/download/4363/3380/
Accountability and Legal Protection for Notaries in the Case of Deed of Change of Shareholding Company - Eduvest - Journal of Universal Studies, https://eduvest.greenvest.co.id/index.php/edv/article/download/51462/4241/25276
Implikasi Hukum dari Pembatalan Hibah dalam Konteks Perselisihan Keluarga - Dinasti Review, https://dinastirev.org/JIHHP/article/download/3044/1826/12681
Definisi Pemilik Manfaat (Beneficial Owner) | JDIH Kementerian Keuangan, https://jdih.kemenkeu.go.id/kamus-hukum/pemilik-manfaat-(beneficial-owner)?id=08c7170b0e9bb8a387d4c6ac7cfffc81
kedudukan dan tanggung jawab hukum pemilik manfaat - Universitas Suryakancana, http://eprints.unsur.ac.id/57/1/4.%20Kedudukan%20dan%20Tanggung%20Jawab%20Pemilik%20Manfaat%20%28Benefial%20Ownership%29%20Dalam%20Korporasi.pdf
DOKTRIN HUKUM DALAM CORPORATE LAW - Direktori Jurnal Elektronik Universitas Esa Unggul, https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/download/350/317
Layanan Administrasi Hukum Umum (AHU), https://aceh.kemenkum.go.id/faq/layanan-ahu
IBLAM LAW REVIEW PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PEMILIK MANFAAT (BENEFICIAL OWNER) DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG, https://ejurnal.iblam.ac.id/index.php/ILR/article/download/386/347/1893
Kajian Yuridis Ketentuan Mengenai Pemilik Manfaat (Beneficial Owner) Perseroan - undip e-journal system, https://ejournal.undip.ac.id/index.php/notarius/article/download/37779/pdf
Pajak Hibah dan Ketentuan Pengenaannya - Mekari Klikpajak, https://klikpajak.id/blog/pajak-hibah/
Komentar
Posting Komentar